admin@jombang.mujatim.or.id
Jombang
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Mojokerto

Home » Berita  »  Ketua MUI Jombang Kritik Fenomena Pawai Horeg dalam Peringatan Maulid Nabi
Ketua MUI Jombang Kritik Fenomena Pawai Horeg dalam Peringatan Maulid Nabi
Ketua MUI Jombang Kritik Fenomena Pawai Horeg dalam Peringatan Maulid Nabi

[Jombang, 25/9/2024] – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang seharusnya menjadi momen penuh khidmat dan spiritual justru memancing kritik di salah satu desa di wilayah Kabupaten Jombang. Acara pawai yang menampilkan iringan salon horeg dan para penari mendapat sorotan dari berbagai pihak, terutama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi.

Pawai budaya yang digelar oleh beberapa kelompok masyarakat di Jombang itu menampilkan salon horeg—truk dengan perangkat musik yang memutar lagu-lagu populer dengan volume tinggi—serta melibatkan penari yang berlenggak-lenggok mengikuti irama. Pertunjukan ini dianggap lebih berfokus pada hiburan daripada refleksi keagamaan, yang seharusnya menjadi inti dari peringatan Maulid Nabi.

KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, yang akrab disapa Gus Awis, memberikan pandangan tegas terkait fenomena ini. Dalam pernyataannya, beliau menekankan bahwa perayaan Maulid Nabi seharusnya menjadi ajang menghidupkan kembali nilai-nilai Islam, baik dalam segi ilmu, akhlak, maupun dakwah kenabian. "Kami menghimbau umat Islam yang merayakan Maulid Nabi agar tetap memperhatikan norma dan etika Islam. Jangan sampai perayaan Maulid Nabi yang bertujuan menghidupkan ilmu dan akhlak nabi malah mengarah pada kegiatan yang menjauhkan umat dari ajaran beliau,” ujar Gus Awis.

Lebih lanjut, Gus Awis juga menyoroti beberapa tindakan yang dianggap melanggar etika Islam, seperti ikhtilat (bercampurnya laki-laki dan perempuan tanpa batas), israf (berlebihan), serta tabdzir (pemborosan). Beliau menekankan bahwa hal-hal semacam ini harus dihindari dalam kegiatan yang terkait dengan peringatan hari-hari besar Islam. "Perayaan Maulid Nabi harus bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah, bukan sekadar acara hiburan yang mengaburkan esensi peringatan itu sendiri," tambahnya.

Sementara itu, masyarakat yang menggelar pawai mungkin beranggapan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ekspresi budaya lokal yang dikombinasikan dengan perayaan keagamaan. Namun, Gus Awis mengingatkan pentingnya memisahkan budaya dengan agama jika tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. "Islam tidak menolak budaya, tetapi budaya yang kita tonjolkan harus tetap berada dalam koridor syariat. Jangan sampai nilai-nilai agama menjadi kabur karena budaya yang kita tampilkan tidak sesuai," tegas beliau.

Dengan adanya kritik ini, diharapkan masyarakat Jombang dapat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan lebih khidmat dan sesuai dengan ajaran Islam, mengutamakan nilai-nilai spiritual dan kebersahajaan dalam merayakan momen tersebut. [pgn]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *